Pengaruh Hutan dan Manusia Terhadap Pemanasan Global

Pemanasan global sering kita kenal dengan sebutan Global Warming adalah suatu proses yang ditandai dengan meningkatnya suhu di bumi baik di daratan maupun di lautan yang disebabkan oleh beberapa hal yang ada hubungannya dengan lingkungan. Pemanasan global ini bisa mengakibatkan dampak yang luas dan bagi lingkungan khususnya di Bumi, seperti mencairnya es di kutub yang bisa menyebabkan naiknya permukaan air laut, perluasan daerah gurun pasir yang menyebabkan suhu Bumi semakin panas, peningkatan volume hujan yang menjadi penyebab utama bencana banjir, perubahan iklim yang seiring berjalannya waktu semakin tidak bisa di tebak, punahnya flora dan fauna tertentu yang disertai dengan aktifitas migrasi fauna, dan lain-lain. Sedangkan dampak bagi aktivitas kehidupan masyarakat meliputi gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir, gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, gangguan terhadap permukiman penduduk, penurunan produksi lahan pertanian, peningkatan resiko wabah penyakit yang akan diderita oleh masyarakat, dan masih banyak lagi.

Dalam artikel ini yang lebih akan saya bahas adalah pada eksistensi hutan di Indonesia yang mana semakin lama semakin sempit wilayahnya. Hutan pada umumnya merupakan kawasan yang paling penting untuk di jaga kelestariannya karena hutan adalah pendukung kehidupan di bumi dalam perannya sebagai penjaga lingkungan, produsen oksigen yang di hirup oleh manusia, sebaga tempat hidupnya flora dan fauna, dan lain sebagainya. Namun jika kita lihat fenomena yang ada di negara Indonesia ini para penduduk yang seharusnya menjaga fungsi-fungsi hutan yang mereka miliki tetapi justru mereka tidak menerapkan fungsi-fungsi hutan dan lebih mementingkan ego masing-masing untuk tetap bertahan hidup. Misalnya saja :
1. Pemakaian Tisu sebagai pengganti sapu tangan
Pemakaian tisu dalam kehidupan modern seperti sekarang ini. Kehidupan modern banyak mengubah kebiasaan-kebiasaan yang belum pernah ada kemudian menjadi ada di kemajuan perkembanmgan zaman dan manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah salah satu penyebabnya, dimana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mempermudah, mempercepat, dan memperingan banyak pekerjaan manusia. Walaupun demikian adanya, masih banyak juga orang yang tidak mau mengakui dan menyadari bahwa pola kehidupan modern sekarang sangat memengaruhi lingkungan terutama kelestarian hutan. Pemakaian tisu di kota-kota besar Indonesia adalah hal yang biasa kita jumpai terlebih-lebih para remaja sekolah dan mulai meninggalkan untuk menggunakan saputangan karena anggapan para remaja bahwa sapu tangan itu hanya digunakan oleh orang tua. Penggunaan tisu tersebut bmungkin telah menjadi ciri budaya kehidupan modern remaja sekarang ini. Hal itu terlihat pada kepraktisan penggunaanya, hampir setiap remaja menggunakan tisu baik itu untuk membersikan hidung dari kotoran terkena flu, mengelap muka dari keringat, aktifitas di kamar mandi, sampai dengan hanya untuk mengelap mulut setelah makan saja memakai tisu. Semua hal tersebut dilakukan dengan sangat sederhana sekali, yaitu ambil, lap lalu dibuang setelah tisu-nya kotor. Apabila masih belum juga merasa bersih, ambil lagi, lap, lalu buang, bahkan berulang-ulang mereka melakukannya.
Sebenarnya budaya tersebut adalah upaya untuk merusak lingkungan karena tisu dibuat dari bubur kertas. Dimana bahan dasar bubur kertas tersebut berasal dari batang pohon akasia yang diproses secara kimia. Untuk membuat tisu, produsen harus membuat perkebunan akasia lalu setelah pohon tersebut besar maka dilakukan penebangan untuk mendapatkan kayunya. Hal tersebut berarti proses penggundulan hutan yang bisa menyebabkan bencana alam, bahkan menyebabkan luas hutan alam semakin menyusut karena digantikan oleh hutan akasia untuk pemenuhan kebutuhan akan tisu.
Hal yang hampir sama dengan hal tersebut adalah pola kunsumsi masyarakat dengan pembungkus yang terbuat dari bahan dasar kertas seperti makanan yang mereka beli di KFC, Mc Donald, serta pakaian yang mereka beli di mall-mall.
2. Pola penebangan pohon yang semabarangan
Demi mengumpulkan kekayaanya dan tuntutan ekonomi yang kian ke depan semakin mendesak, pola pikir yang menggunakan otak yang sehat tidak lagi digunakan oleh manusia demi memenuhi kebutuhannya bahkan mereka tidak memperdulikan lagi hal yang akan terjadi setelah mereka melakukan suatu hal yang bisa merusak alam. Tebang pilih tanam adalah suatu prinsip yang harus dipegang demi kelangsungan hutan dalam menjalankan fungsinya, tetapi pada kenyataan sekarang ini manusia kian serakah saja, yang mana mereka tidak lagi menerapkan tebang pilih tanam demi pemenuhan kebutuhan mereka dan hanya merepapkan Tebang saja. Tebang disini dilakukan seenak mereka sendiri tanpa memikirkan berapakah umur pohon yang sudah layak untuk di tebang dan mereka juga tidak menanam lagi tanaman pengganti setelah pohon tersebut di tebang. Akibatnya adalah proses penggundulan hutan yang terjadi di mana-mana yang bisa menyebabkan bencana alam dan kerusakan lingkungan.
Selain kedua hal yang sudah saya parpakan diatas sebenarnya masih banyak lagi hal yang dapat merusak keberadaan hutan. Dari kedua fenomena diatas yang dibutuhkan untuk kelancaran lestarinya hutan adalah pola pikir manusia yang seharusnya memiliki pola pikir jangka panjang disertai dengan solusi apabila terjadi kegagalan ataupun untuk tetap melestarikan hutan. Di samping itu juga budaya pelabelan seperti apa yang saya paparkan pada kasus yang pertama adalah budaya bodoh yang berkembang di kehidupan generasi muda saat ini karena pada dasarnya antara tisu dengan sapu tangan memiliki fungsi yang sama yaitu untuk membersihkan, dengan keadaan bumi sekarang ini sebaiknya generasi muda meninggalkan budaya tersebut dan lebih memikirkan secara matang apa yang akan mereka pakai demi kelangsungan hutan.

Iklan

Pentingnya Campur Tangan Pemerintah dalam Transportasi di Indonesia

Transportasi pada kenyataanya merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan pokok yang akan menjamin jalannya kehidupan manusia. Melalui sarana transportasi manusia bisa memenuhi kebutuhan pokoknya yang tidak terdapat di sekitar daerah tempat tinggalnya melainkan hanya terletak jauh dari tempat tinggalnya dan tidak bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Sehingga secara tidak langsung transportasi merupakan sarana pengintegrasian penduduk antar wilayah di suatu negara. Sarana transportasi mencakup transportasi yang ada di darat, laut, maupun udara baik pribadi maupun umum sesuai dengan hak kepemilikannya. Di indonesia sendiri ketiga cakupan transportasi boleh dikatakan sangat mendukung karena Indonesia sendiri merupakan negara kepulauan yang antar pulaunya dibatasi oleh lautan. Pada prakteknya di lapangan dapat kita amati bahwa transportasi bisa juga mencerminkan kondisi sosial suatu masyarakat. Pola pergerakan manusia juga merupakan salah satu cerminan kondisi sosial suatu masyarakat. Dalam waktu-waktu tertentu penduduk Indonesia melakukan pergerakan secara bersamaan dengan menggunakan sarana transportasi publik. Salah satu contoh dari kasus tersebut adalah fenomena mudik Lebaran. Fenomena menarik di masyarakat ini bisa kita rasakan setiap tahun menjelang Lebaran. Sebagian masyarakat desa yang bekerja di kota-kota besar akan menjalankan ritual tahunan berupa mudik ke tempat asalnya. Kerinduan terhadap daerah tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan, keinginan bersilaturahmi serta berkumpul bersama saudara, serta keinginan untuk menunjukkan keberhasilannya setelah hidup di kota kepada tetangga sekitar tempat tinggalnya di desa menjadi faktor pendorong dan alasan bagi warga masyarakat untuk pulang kampung kelahirannya. Aktivitas kembali ke tanah kalahirannya terutama pada saat hari besar merupakan perhelatan akbar tahunan yang diselenggarakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Bukan hanya masyarakat saja yang harus bekerja keras demi mewujudkan keinginan mereka, tetapi pemerintah juga harus ikut mendukung dalam kegiatan itu dengan menyediakan sarana transportasi publik yang nyaman dan memadai kapasitasnya.

Bila kita amati kondisi sarana dan prasarana transportasi publik di Indonesia masih belum optimal. Hal tersebut terbukti seperti apa yang sudah ada dan berjalan di kehidupan ini. Pada dasarnya terdapat empat aspek yang di jadikan sebagai pedoman dalam melakukan evaluasi terhadap kondisi sarana transportasi, yaitu: aspek keselamatan, aspek keamanan, aspek keterjangkauan, dan aspek kenyamanan.

a. Aspek pertama adalah keselamatan.
Hal ini tidak bisa dielakkan lagi karena musibah adalah suatu hal yang tidak kita harapkan. Harapan para pengguna sarana transportasi publik ini pasti bisa selamat sampai tujuan tanpa ada hambatan apapun.
b. Aspek kedua adalah keamanan.
Masyarakat awam masih menempatkan aspek ini ke dalam dua hal utama ketika melakukan perjalanan jauh. Faktor keamanan sangat memengaruhi keputusan seseorang dalam menentukan jenis kendaraan yang dipilih diantara bus, kereta api, kapal, ataukah pesawat terbang.
c. Aspek ketiga adalah keterjangkauan.
Seseorang memilih sarana transportasinya berdasarkan anggaran keuangan masing-masing individu. Walaupun terdapat pilihan untuk naik bus, kereta api, kapal, ataukah pesawat terbang ketika mereka melakukan perjalanan jarak jauh.
d. Aspek keempat adalah kenyamanan.

Aspek ini memang mendapatkan toleransi dari masyarakat pengguna sarana transportasi umum. Entah itu disebabkan karena memang pada dasarnya masyarakat Indonesia yang menerima apa adanya suasana yang ada ataukah kesadaran pada diri mereka sendiri atas kondisi tersebut.

Minimnya Pengetahuan Masyarakat Tentang Keberadaan Ilmu Sosiologi

Secara kebahasaan nama sosiologi berasal dari kata socious, yang artinya kawan dan logos, yang artinya ilmu. Apabila dua kata tersebut digabungkan maka menjadi kata sosiologi (dalam bahasa Indonesia) yang memiliki arti ilmu tentang kawan. Dalam hal ini, kawan memiliki arti yang luas, tidak seperti dalam pengertian sehari-hari yang menunjukkan orang yang dekat, dan kawan juga biasanya hanya digunakan untuk menunjuk hubungan dianatara dua orang atau lebih yang berusaha atau bekerja bersama. Kawan dalam pengertian sosiologi ini merupakan hubungan antar-manusia, baik secara individu maupun kelompok, yang meliputi seluruh macam hubungan, baik yang mendekatkan maupun yang menjauhkan, baik yang menuju kerpada bentuk kerjasama maupun yang menuju pada konflik atau permusuhan. Sehingga sosiologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang hubungan antar-manusia yang terjadi di dalam masyarakat.
Di era modern ini juga masih ada juga masyarakat yang tidak mengetahui apa itu ilmu sosiologi. Minimnya pengetahuan orang tentang ilmu sosiologi tersebut membuat banyak orang salah persepsi tentang sosiologi. Sering kali sosiologi dianggap sama dengan psikologi, sosiologi dianggap identik dengan ilmu antropologi karena antara sosiologi dengan antropologi objek kajiannya sama yaitu mempelajari tentang masyarakat tetapi masih ada perbedaan di antara dua ilmu tersebut yaitu ilmu antropologi mempelajari masyarakat yang disertai kebudayaannya, dan masih banyak lagi persepsi masyarakat awam yang belum benar lainnya. Bahkan tidak jarang, siswa-siswa sekolah juga memiliki pemahaman yang sama dengan pandangan masyarakat awam tersebut. Menurut para siswa sosiologi dianggap sebagai ilmu yang tidak penting, apalagi sosiologi termasuk dalam lingkup ilmu sosial, yang mana ilmu sosial itu sendiri bukanlah jurusan favorit yang diminati oleh para siswanya dan lebih memilih jurusan ilmu alam baik sekolah yang terletak di desa maupun di kota. Beberapa kasus ditemukan bahwa pelajaran sosiologi dianggap sebelah mata, dimana pelajaran sosiologi hanya sebagai pelajaran pelengkap ketika siswa mulai jenuh setelah belajar ilmu-ilmu eksakta. Untuk itu sebagai seorang guru sosiologi dituntut kepiawaiannya untuk menarik perhatian dan simpati siswanya dengan menampilkan pembelajaran sosiologi yang menarik dan menyenangkan. Bukan merupakan hal yang mudah bagi seorang guru untuk menyajikan desain pembelajaran sosiologi yang mudah dan menyenangkan siswanya. Karena di sekolah pastilah seorang guru akan menghadapi siswa yang banyak jumlahnya dan memiliki karakter yang berbeda-beda pula. Salah satu solusi untuk pembelajaran sosiologi agar lebih menarik dan menyenangkan siswanya adalah praktek lapangan, dimana seorang guru membawa siswanya ke dalam masyarakat untuk melaksanakan suatu penelitian tentang kajian ilmu sosiologi. Belajar sosiologi akan menjadi semakin menarik dan menyenangkan serta tidak membosankan apabila siswa diberi kebebasan dan keleluasaan dalam melaksanakan penelitian ilmiah ketika mereka berada pada laboratorium sosiologi yaitu masyarakat. Selain itu juga hal tersebut merupakan salah satu cara sosialisasi kepada masyarakat tentang ilmu sosiologi, sehingga akan memperkuat eksistensi ilmu sosiologi di kancah ilmu pengetahuan.

Panggung Politik ataukah Panggung Sandiwara

Artis merupakan kumpulan manusia-manusia yang di beri kelebihan oleh Tuhan untuk menghibur khalayak dengan kemampuannya. Budaya musiman pun tak jauh dari image mereka karena sering kita jumpai di media bahwa ada suatu fenomena yang mana entah disadari ataupun tidak oleh kalangan artis itu sendiri bahwa mereka bersama-sama ikut campur dalam suatu hal yang berlangsung dalam jangka waktu yang pendek kemudian berganti dengan hal yang lebih baru lagi. Salah satu contohnya adalah fenomena artis yang berbondong-bondong untuk terjun ke dunia polotik. Padahal dunia politik dengan dunia artis itu berbeda jauh sekali, menurut pandangan masyarakat pastilah dunia artis dipandang sebagai suatu proses kehidupan yang penuh dengan sandiwara oleh para pelakunya, sedangkan dunia politik itu sendiri merupakan suatu proses kehidupan yang memerlukan tanggung jawab dari pelakunya sesuai dengan visi, misi, dan janji kepada kesejahteraan rakyat yang telah mereka utarakan.

Pentas politik negeri ini diwarnai fenomena baru, yakni “selebritis politik” dan fenomena artis terjun ke politik semakin tak terbendung untuk ke depannya. Panggung politik dalam negeri belakangan ini makin diramaikan kehadiran artis. Tak ada yang tahu pasti apakah ketertarikan artis tersebut untuk terjun ke dunia politik karena sekadar memanfaatkan popularitas ataukah memang punya kapasitas dari pribadinya. Hendaknya kalangan artis sendiri perlu berhati-hati ketika terjun ke dunia politik. Jangan sampai keterlibatannya hanya di dimanfaatkan karena kepopulerannya tanpa memberi peran apapun seperti selama ini terjadi dalam bidang-bidang lain. Tugas politik adalah tugas yang mulia namun berat, beban yang diemban oleh politikus adalah menangung masa depan bangsa dan negara. Maka, bagi kalangan artis dan bagi partai politik sendiri jangan main-main dalam hal ini.

Pemilihan umum atau Pilkada adalah wujud dari penyaluran aspirasi rakyat. Maka pemimpin yang terpilih dalam Pemilihan Umum adalah pemimpin yang di kehendaki sebagian besar rakyat. Politik melalui pemilu adalah harapan rakyat untuk nasib Indonesia atau nasibnya sendiri sebagai warga Indonesia akan lebih baik ataukah semakin terpuruk pada masa yang akan datang. Calon pemimpin ayang diharapkan oleh rakyat dalah seseorang yang memiliki visi dan misi tertentu, program-program tertentu yang ditawarkan kepada rakyat. Di tingkat nasional, visi, misi, dan program-progam tersebut akan di laksanakan oleh para politikus untuk kesejahteraan, kemakmuran, keadilan, dan kemajuan Negara Republik Indonesia. Di tingkatan daerah visi, misi, dan program-progam ini rencananya akan di laksanakan oleh para politikus untuk kesejahteraan, kemakmuran, keadilan, dan kemajuan masing-masing daerah dengan memanfaatkan segala sumberdaya yang ada di daerah tersebut. Sebagai artis yang memutuskan terjun dalam dunia politik juga harus memiliki visi, misi, dan program-program tertentu seperti politikus lainnya tidak hanya bermodal wajah mereka yang menawan dan kepopuleran yang tak tertandingi oleh rakyat jelata apabila mereka ingin menjadi seorang pemimpin. Visi, misi, dan program lahir dari pemikiran dan pengamatan yang mendalam atas kondisi negara bukanlah sekedar rencana asal-asalan yang saling berkaitan antara satu dan yang lainnya seperti apa yang telah dibuat dalam naskah drama.

Bunuh Diri menurut Teori Emile Durkheim dalam Kajian Sosiologi

Emile Durkheim lahir di Epinal, Prancis pada tanggal 15 April 1858. Ia adalah seorang yang memiliki keturunan dari orang yahudi. Dia menolak karier akademis tradisional di bidang filsafat dan berusaha memperoleh pelatihan ilmiah yang diperlukan untuk memandu moral masyarakat. Walaupun dia tertarik pada sosiologi ilmiah, namun dimasa itu belum ada disiplin sosiologi, sehingga antara tahun 1882 sampai 1887 dia mengajar filsafat dibeberapa sekolah propinsi di sekitar Paris. Durkheim melakukan perjalanan ke Jerman dimana ia berkenalan dengan psikologi ilmiah yang dirintis oleh Wilhelm Wundt. Durkheim menerbitkan beberapa karya yang melukiskan pengalamannya di Jerman. Publikasi-publikasi ini membantunya memperoleh posisi di departement filsafat di Universitas Bordeaux pada tahun 1887.
Tahun 1893 ia menerbitkan tesis doktoral dalam bahasa Prancis, The Division of Labour in Society dan tesisnya dalam bahasa latin Montesquieu. Pernyataan metodologis utamanya, The Rules of Sociologycal Method yang terbit tahun 1895. Pada tahun 1897 diikuti oleh penerapan metode-metode tersebut dalam study empiris dalam buku Le Suicide. Tahun1896 ia menjadi profesor penuh di Bordeaux. Kini Durkheim sering kali disebut sebagai seorang yang berhaluan politik konservatif dan pengaruhnya dalam bidang sosiologi jelas-jelas konservatif. Namun pada zamannya ia dipandang sebagai seorang liberal dan ini tercermin ketika ia secara aktif berperan dalam membela Alfret Dreyfus yang divonis mati karena penghinaan terhadap Tuhan. Durkheim wafat pada tanggal 15 November 1917.
Dalam studinya Le Suicide durkheim bermaksud untuk menyelidiki sampai sejauh mana dan bagaimana individu-individu dalam masyarakat modern masih tergantung dan berada di bawah pengaruh masyarakat. Dalam studi ini Durkheim merumuskan beberapa tipe bunuh diri, antara lain :
1. Egoistik
Egoisme merupakan sikap seseorang yang tidak berintegrasi dengan kelompoknya dan memilih untuk menyendiri dari kehidupan sekitar yang berinteraksi dengan dirinya, kelompok disini merupakan tempat untuk berhubungan antara individu yang satu dengan individu yang lainnya, terdiri dari keluarga, teman-teman yang dekat, dan masyarakat luas. Biasanya tipe bunuh diri semacam ini didasari oleh sikap yang tidak terbuka kepada orang lain, sehingga akan menyebabkan perasaan terasing dari masyarakat dan akan menyebabkan orang tersebut untuk memikirkan dan mengusahakan kebutuhannya sendiri tanpa memperhatikan kebutuhan maupun bantuan dari orang lain ataupun masyarakat. Dalam kehidupannya pasti ia tidak memiliki tujuan tujuan bersama dalam kehidupan kelompoknya selain kepentingannya sendiri, sehingga ia akan merasa tersudut yang disebabkan oleh egoisme yang berlebihan dan akan mengakibatkan terjadinya bunuh diri. Dari beberapa hal tersebut dapat di analisis bahwa kondisi integrasi antara pelaku bunuh diri tersebut dengan kelompoknya dapat dikatakan rendah. Misalnya : siswa yang bunuh diri karena tidak lulus sekolah.
2. Altruistik
Apabila bunuh diri egoistik disebabkan oleh kurangnya integrasi dengan kelompoknya, sementara bunuh diri altruistik adalah kebalikan dari tipe bunuh diri egoistik. Pengintegrasian antara individu yang satu dan lainnya berjalan secara lancar sehingga menimbulkan masyarakat yang memiliki integrasi yang kuat. Apabila kelompoknya menuntut bahwa mereka harus mengorbankan diri mereka, maka mereka tidak mempunyai jalan lain selain melakukannya karena mereka telah menjadi satu dengan kelompok mereka. Sehingga integrasi yang kuat tersebut akan menekan individualisme anggota kelompoknya ketitik dimana individu dipandang tidak pantas atau tidak penting dalam kedudukannya sendiri. Misalnya : perjuanagan pahlawan Indonesia dalam meraih kemerdekanaan Indonesia.
3. Anomik
Anomi adalah keadaan moral dimana orang yang bersangkutan kehilangan cita-cita, tujuan, dan norma dalam hidupnya. Nilai-nilai yang semula memberi motivasi dan arah kepada perilakunya tidak berpengaruh lagi. Keadaan moral dimana orang bersangkutan kehilangan cita-cita, tujuan, dan norma dalam hidupnya sehingga akan menimbulkan kebimbangan pada diri seseorang. Keadaan anomi ini bisa melanda seluruh masyarakat ketika terjadi perubahan pada masyarakat tersebut secara cepat, tetapi di lain pihak masyarakat tersebut belum bisa mererima perubahan tersebut dikarenakan nilai-nilai lama pada masyarakat tersebut belum begitu mereka pahami sementara nilai-nilai yang baru belum jelas.
4. Fatalistik
Tipe bunuh diri ini tidak terlalu banyak dibahas oleh Dukheim. Kalau bunuh diri anomik terjadi dalam situasi di mana nilai dan norma yang berlaku di masyarakat melemah, namun sebaliknya bunuh diri fatalistik ini terjadi ketika nilai dan norma yang berlaku di masyarakat meningkat, sehingga menyebabkan individu ataupun kelompok tertekan oleh nilai dan norma tersebut. Dukheim menggambarkan seseorang yang melakukan bunuh diri fatalistik seperti seseorang yang masa depanya telah tertutup dan nafsu yang tertahan oleh nilai dan norma yang menindas.

Matakuliah Pendidikan Keawganegaraan dengan Tema Mempertahankan Budaya Nasional

Nama : Guardina Ardi Nama
NIM : 08413244037
Prodi : Pendidikan Sosiologi

Dosen : Dina D. K, M. Hum.

MEMPERTAHANKAN UPACARA PERNIKAHAN ADAT JAWA

Dinamika sosial dan kebudayaan pasti akan dialami oleh semua daerah di dunia ini, tidak terkecuali dengan hal yang melanda masyarakat Indonesia. Demikian pula masyarakat dan kebudayaan Indonesia pernah berkembang dengan pesatnya di masa lampau, walaupun perkembangannya dewasa ini agak tertinggal apabila dibandingkan dengan perkembangan di negeri maju lainnya. Ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya perkembangan sosial budaya dalam masyarakat Indonesia. Kedua faktor tersebut yang petama yaitu dari dalam masyarakat itu sendiri seperti bertambah dan berkurangnya jumlah penduduk dalam suatu masyarakat, penemuan-penemuan baru baik berupa ide ataupun alat, dan konflik anatar anggota masyarakat, kemudian yang kedua yaitu dari luar masyarakat masyarakat itu seperti pengaruh kontak antar budaya secara langsung maupun tidak langsung, peperangan, serta perubahan lingkungan hidup yang pada gilirannya dapat memacu perkembangan sosial dan kebudayaan masyarakat yang harus menata kembali kehidupan mereka.
Orang seringkali tidak menyadari bahwa ia telah dipengaruhi orang lain hanya dengan sepatah-dua patah kata. Sebagai contohnya proses upacara pernikahan yang menggunakan adat jawa, tetapi proses upacara ini mulai ditinggalkan oleh masyarakat Jawa, yang mana Upacara pernikahan adat Jawa ini memiliki tata cara yang khas dan dilakukan menurut tradisi turun-temurun yang terdiri dari banyak sub-upacara. Setiap detail yang digunakan saat pagelaran pesta memiliki arti dan filosofi tentang hidup. Selain itu upacara pernikahan adat Jawa juga membutuhkan waktu yang agak panjang yaitu paling tidak selama tiga hari untuk melaksanakan upacara pernikahan adat Jawa. Sehingga hal tersebut menyebabkan tidak setiap orang Jawa mengerti tata upacara adat penikahan adat Jawa, apa saja prosesinya atau upacara ritualnya, dan bagaimana penyusunan panitia pelaksana untuk masing-masing prosesi tersebut.
Urutan acara dalam upacara pernikahan adat Jawa adalah sebagai berikut :
1. Tarub
2. Lamaran
3. Nontoni
4. Seserahan
5. Siraman
6. Midodareni
7. Panggih, adapun urut-urutan dalam acara ini yaitu :
a. Balangan gantal
b. Wiji dadi
c. Sindur binayang
d. Timbang
e. Tanem
f. Liru kalpika
g. Kacar kucur
h. Dahar kembul
i. Mertuwi
j. Sungkeman
k. kirab
Keterangan dari tiap urutan acara tesebut yaitu :
1. Tarub
Maksud dari hal ini adalah untuk memperluas halaman yang sifatnya untuk menghormati para tamu yang datang agar dapat duduk dengan nyaman tidak terkena panas ataupun hujan, selain itu juga diartikan bahwa tuan rumah memang sedang ada suatu acara. Pada pintu masuk diberi hiasan janur kuning (daun kelapa yang masih muda) yang dipasang tepi tratag yang terbuat dari bleketepe (anyaman daun kelapa yang hijau). Untuk perlengkapan tarub selain janur kuning masih ada lagi antara lain yang disebut dengan tuwuhan. Adapun macamnya : dua batang pohon pisang raja yang buahnya tua/matang, dua buah cengkir yaitu cengkir gading dan cengkir legi, dua untai padi yang sudah tua, dua batang pohon tebu wulung (tebu hitam) yang lurus, daun beringin secukupnya, dan daun dadap srep. Tuwuhan dan gegodongan ini dipasang di kiri pintu gerbang satu unit dan dikanan pintu gerbang satu unit (bila selesai pisang dan kelapa bisa diperebutkan pada anak-anak). Selain pemasangan tarub diatas masih delengkapi dengan makanan-makanan tradisional yang memiliki makna petuah dan nasehat yang adi luhur, harapan serta do’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
2. Lamaran
Tahap ini merupakan tahap pembicaraan antar orang tua dari kedua belah pihak yang tujuannya akan berbesanan dan menikahkan putra dan putrinya. Pihak dari calon pria mengutus orang dalam satu rombongan sebagai wakil dari kedua orang tuanya untuk datang dan membicarakan rencana pernikahannya dengan disaksikan oleh sanak saudara dari kedua belah pihak.
3. Nontoni
Nontoni adalah upacara untuk melihat calon pasangan yang akan dinikahi, biasanya tata cara ini diprakarsai pihak pria. Dimasa lalu orang yang akan nikah belum tentu kenal terhadap orang yang akan dinikahinya, bahkan terkadang belum pernah melihatnya, meskipun ada kemungkinan juga mereka sudah tahu dan mengenal atau pernah melihatnya. Setelah orang tua dari calon pria yang akan diperjodohkan telah mengirimkan penyelidikannya tentang keadaan si gadis yang akan diambil menantu. Penyelidikan itu dinamakan dom sumuruping banyu atau penyelidikan secara rahasia. Setelah hasil nontoni ini memuaskan, dan calon pria sanggup menerima pilihan orang tuanya, maka diadakan musyawarah diantara orang tua calon pria untuk menentukan tata cara lamaran.
4. Seserahan
Seserahan merupakan bentuk penyerahan dari sarana atau syarat dari hasil perundingan sebelumnya. Seserahan tersebut berfungsi sebagai peningset atau pengikat perundingan yang telah disepakati bersama. Adapun wujud dari seserahan tersebut antara lain : sanggan (berupa pisang raja yang tua serta beras, garam, kelapa, minyak sayur), kain batik untuk kedua pengantin, pesing (dua lembar kain batik untuk kakek dan nenek pihak perempuan), makanan dan buah-buahan, uang secukupnya, dan mas kawin.
5. Siraman
Makna dari pesta Siraman adalah untuk membersihkan jiwa dan raga kedua calon pengantin yang akan dinikahkan. Pesta Siraman ini biasanya diadakan di siang hari, sehari sebelum Ijab dan Panggih. Siraman di adakan di rumah orangtua pengantin masing-masing. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau di taman. Sekarang lebih banyak diadakan di taman. Daftar nama dari orang yang melakukan Siraman itu sangat penting. Tidak hanya orangtua, tetapi juga keluarga dekat dan orang yang dituakan. Mereka menyeleksi orang yang bermoral baik. Jumlah orang yang melakukan Siraman itu biasanya tujuh orang.
6. Midodareni
Midodareni berasal dari kata dasar widodari ( Jawa ) yang berarti bidadari yaitu putri dari sorga yang sangat cantik dan sangat harum baunya. Acara ini biasanya dilakukan pada malam hari, sehari menjelang pernikahan. Calon pria ditemani oleh sanak saudaranya dan sahabatnya untuk bertandang ke rumah calon mertuanya. Setelah diterima oleh calon mertuanya, kemudian calon pria diinapkan di rumah yang tidak jauh dari dari rumah calon penganten perempuan agar diantara kedua calon pengantin tersebut tidak saling bertemu. Menjelang tengah malam pada waktu malem midodareni hendaknya pihak yang berkepentingan memanjatkan do’a kepada Tuhan Yang Maha Esa serta dewi-dewi yang diyakini agar memberi berkah dan restu kepada kedua calon pengantin.
7. Panggih
Sebelum upacara panggih dilaksanakan maka pada kebiasaan adat antara kedua belah pihak diresmikan dulu oleh pemuka kepercayaan yang menandakan sahnya perkawinan kedua mempelai. Kemudian panggih atau bertemuanya pengantin pada acara yang bersifat seremonial. Pada acara ini Kedua calon pengantin membawa gantal (daun sirih sebanyak tiga lembar yang digulung dan berisi jambe diikat dengan benang lawe).
Pihak calon pria membawa kembar mayang dan sebelum memasuki tempat upacar pernikahan rombongan berhenti sejenak di pintu masuk tempat upacar pernikahan tersebut untuk menunggu calon penganten perempuan keluar dari dalam rumahnya dengan diiringi oleh orangtua beserta sanak saudaranya untuk dipertemukan dengan calon pengantin pria. Tak jauh beda dengan rombongan calon pengantin pria, pihak pengantin perempuan juga membawa kembar mayang. Setelah keduanya bertemu, kemudian keduanya duduk berhadapan dan sebagai penengah adalah meja kecil berbenttuk persegi. Sementara pada sisi yang lain di sebelah kanan dari tempat duduk calon pengatin pria adalah pemuka kepercayaan yang nantinya akan mengesahkan pernikahan tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan acara balangan gantal, kedua calon pengantin saling melempa gantar yang mereka bawa tadi. Lalu dilanjutkan dengan saling menyerahkan kembar mayang tadi. Setelah itu dilanjutkan dengan acara wiji dadi yaitu simbol dai dibukanya benih untuk ditanam dan tumbuh menjadi bibit yang diharapkan, dimana dalam upacara ini calon pengantin pria memecahkan telur ayam kampung dengan cara menginjak dengan telapak kaki kanan dan sang calon pengantin perempuan membasuh telapak kaki calon pengantin pria mengguanakan air kembang setaman yang menyimbolkan kesetiaan sang istri kepada sang suami. Dilanjutkan dengan acara sindur binayang, dalam hal ini kedua pengantin berjejer dan bergandengan kemudian mengikuti ayah pengantein perempuan menuju sasana tempat duduk pengantin. Sebelum pengantin duduk di sasananya, keduanya harus melewari acara timbang yang dimaksudkan bahwa kedua pengantin sudah ditimbang bibit, bebet, bobotnya. Dimana pengantin duduk di atas kanan dan kiri paha sang ayah dari pengantin perempuan, kemudian sang ayah menanyakan kepada sang ibu pengantin perempuan apakah sudah timbang ataukah belum, maka akan dijawab oleh sang ibu. Acara berikutnya adalam tanem yang diartikan sebagai keyakinan kedua orangtua dengan pernikahan anaknya tersebut dan kedua pengantin juga tidak ragu lagi dalam mengarungi bahtera rumah tangga, orantua dari pengantin perempuan mempersilahkan duduk kedua pengantin di sasana pernikahan. Lalu dilanjutkan dengan acara liru kalpika mengandung arti kecintaan mereka dibangun dari hati yang tulus dan asli seperti halnya emas, dalam acara ini kedua pengantin saling menukar cincin dan memakaikannya pada jari manis. Kemudian dilanjutkan dengan acara kacar-kucur, acara ini merupakan pertanda bahwa sang suami mempunyai kewajiban mendapatkan rejeki untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Setelah acara ini selesai, maka dilanjutkan dengan acara dahar kembul yaitu kedua pengantin saling menyuapi dengan segempal nasi yang memiliki arti bahwa hasil jerih payah mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Acara selanjutnya yaitu ngabekten yaitu sungkeman yang dilakukan oleh kedua pengantin kepada orangtua mereka berdua dengan harapan bahwa selama mengarungi selama mengarungi bahtera rumah tangga mereka selalu mendapatkan keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa. Dilanjutkan dengan acara kirab, acara ini adalah sebagai acara perkenalan dari kedua pengantin kepada sanak saudara kedua belah pihak yang belum dikenalnya.
Kebanyakan orang Jawa sekarang ini lebih mengutamakan hal-hal yang praktis saja, yang mana mereka mulai meninggalkan upacara pernikahan adat Jawa tersebut dan menggantikannya cukup hanya dengan ijab sah yang dilakukan oleh penghulu dari KUA saja dalam proses upacara pernikahannya. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa terjadinya suatu pergeseran ataupun kemunduran dalam nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, padahal secara tidak sadar ketika mendengar seseorang maupun kelompok yang mendukung pelestarian budaya akan menganggap kelompok itu benar karena pelestarian budaya itu benar. Dapat kita ketahui bahwa kebudayaan itu sendiri menurut ilmu antropologi berarti keseluruhan dari sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri denagan belajar. Sehingga kita memiliki kewajiban untuk menjaga kelestarian kebudayaan tersebut agar tidak punah ataupun diambil oleh orang lain.
Kecemasan kita terhadap punahnya kebudayaan daerah membentuk sebuah bayangan kelam di benak mayarakat pada suatu saat kebudayaan daerah itu tinggal arwahnya saja yang bisa kita puja. Saat kita menghadapi kecemasan klasik tersebut, kini kecemasan lain datang mengganggu. Negara tetangga mengklaim sejumlah produk budaya kita. Kita masih bisa marah, meskipun kita sendiri kerap melupakan kebudayaan daerah. Tidak ada yang lebih bijak menghadapi masalah ini kecuali kita ambil saja hikmahnya. Terlepas semangat nasionalisme menyikapi “pencurian” produk budaya oleh negeri tetangga, peristiwa itu menyadarkan kita bahwa selama ini kita memang kurang pintar mempertahankan dan merawat warisan kebudayaan negeri sendiri. Di satu sisi kita telah mengagung-agungkan kebudayaan daerah sebagai aset kebudayaan nasional. Di lain kenyataan, eksistensi kehidupan kebudayaan daerah sudah layu. Nyaris mati atau tidak terpakai lagi dalam kehidupan masyarakat kita. Kenyataan pahit itu makin didukung pengaruh globalisasi dan sikap generasi muda kita yang makin rapuh saja menerima arus kebudayaan asing.
Pernikahan merupakan prosesi yang sakral, dan pernikahan itu merupakan bagian dari kebudayaan atau adat suatu kelompok masyarakat yang merupakan peninggalan nenek moyang. Banyak sekali hal- hal yang berbau mistik sebagai misal dalam prosesi upacara pernikahan adat Jawa tersebut. Tetapi bagaimanapun juga orang itu tetap manusia biasa, tidak ada pemikiran yang logis tentang perhitungan jawa, karena kita tidak tahu apa yang terjadi di hari esok. Upacara pernikahan sesuai dengan pelaksanaan merupakaan pertunjukan dari tradisi seni dan budaya, bagian dari ciri khas bangsa, di mana simbol dari kehidupan adalah kedudukan dengan martabat dan kebanggaan. Tradisi ini diwarisi sejak dari dahulu kala sampai sekarang. Upacara pernikahan adat Jawa berisi rangkaian upacara yang masih bersifat tradisional dan pada perkembangannya mengalami pengikisan budaya, untuk itu penulis mencoba mengemukakan beberapa saran untuk melestarikan adat-istiadat peninggalan leluhur kita. Penulis berpendapat agar adat-istiadat leluhur dapat kita lestarikan, maka kita harus melakukan pembinaan dari lapisan paling bawah. Hal yang paling dasar yang dapat kita lakukan untuk menjaga kelestarian kebudayaan daerah khususnya pernikahan adat Jawa yaitu dengan cara melakukan pernikahan dengan sesama orang Jawa, walaupun cara tersebut dapat menghambat proses integrasi nasional. Kemudian cara lain yang dapat ditempuh yaitu pemerintah dan masyarakat yang pro-aktif bersama-sama mengadakan serangkaian program yang bertujuan untuk melestarikan kebudayaan leluhur kita. Seminar-seminar untuk semua kalangan masyarakat yang menyangkut kebudayaan dan langkah-langkah pelestariannya khususnya upacara pernikahan adat Jawa harus terus kita galakkan dan satu hal yang paling penting yang harus kita catat kita harus bisa menanamkan kesadaran kepada setiap individu bahwa kebudayaan yang kita nikmati sekarang harus pula dinikmati oleh anak cucu kita kelak dimasa yang akan datang. Pada generasi muda kita sebagai produk modernisme semakin kurang tertarik terhadap hal-hal yang berbau tradisi karena dianggap kuno, ketinggalan zaman dan hanya milik generasi tua saja. Menghadapi keadaan itu, pemerintah dan segenap kelompok masyarakat yang peduli sebenarnya tidak tinggal diam. Karena bagaimanapun budaya tradisional patut dilindungi dan dilestarikan. Mereka dapat menanggulangi hal tersebut dengan cara sosialisasi prosesi pernikahan adat Jawa, yang mana dalam prosesi tersebut mengemas upacara pernikahan adat Jawa dalam konsep yang modern, sehingga upacara tersebut tidak terkesan sulit yang kemudian akan tekesan praktis. Di samping itu, walau tidak mudah upaya-upaya pelestarian budaya kita harus tetap gencar dilakukan dengan berbagai cara diantaranya adalah pementasan-pementasan seni budaya tradisional misalnya festifal ataupun pameran kebudayaan di berbagai pusat kebudayaan atau tempat umum yang dilakukan secara berkesinambungan. Upaya pelestarian itu akan berjalan sukses apabila didukung oleh berbagai pihak termasuk pemerintah dan adanya sosialisasi luas dari media massa termasuk televisi. Sehinnga walupun tidak secara langsung melihat prosesi upacara pernikahan adat Jawa masyarakat bisa mengetahui dan mengerti bagaimana prosesi upacara pernikahan adat Jawa itu sebenarnya melalui layar kaca tanpa harus beranjak dari rumahnya. Selain dengan cara yang sudah tersebut di atas pemerintah maupun masyarakat masih memiliki jalan untuk menjaga kelestarian kebudayaan daerah khususnya upacara pernikahan adat Jawa, yaitu dengan cara mengadakan upacara pernikahan adat Jawa secara masal. Walaupun cara tersebut dapat membuat kita tertawa, tetapi di sisi lain upacara tersebut sangat menguntungkan bagi kelestaian kebudayaan daerah. Dimana upacara masal tersebut dapat membantu masyarakat yang tergolong dalam masyarakat yang tingkat ekonominya menengah ke bawah yang merasa keberatan untuk mengadakan upacara pernikahan adat Jawa, dan apabila sistem tersebut didukung oleh semua golongan maka kebudayaan daerah akan tetap lestari.

Referensi :
http://holyku.page.tl/Pernikahan-Adat-Jawa-Yogyakarta.htm
Koentjaraningrat, 1980, Pengantar Ilmu Antropologi.
Soerjono Soekanto, 2007, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta : Raja Grafindo Persada..

Suwarna Pringgawidagda, 2003, Panduan Praktis Acara pengantin Bebagai gaya.
Tjaroko Hp Teguh Pranoto, 2009, Tata Upacara Adat Jawa.

  • Kalender

    • Oktober 2017
      S S R K J S M
      « Jan    
       1
      2345678
      9101112131415
      16171819202122
      23242526272829
      3031  
  • Cari