Sebuah cerita dibalik “Berdiri Terinjak”

Mengacungkan jari tengah sudah seperti ritual wajib menonton Pee Wee Gaskins kemanapun kita main. Baik yang suka maupun yang (mengaku)anti. Seperti juga ketika manggung di Kuala Lumpur, gw sengaja mengajak penonton untuk mengacungkan jari tengah ketika menyanyikan lagu “Berdiri Terinjak”. Apa yang ada dibalik lagu ini? Andre Opa, Editor in Chief majalah Trax yang ikut pada perjalanan kita itu, menyambangi kamar gw, dan kemudian banyak rahasia terungkap dari obrolan yang awalnya cuma sekedar ngalor ngidul.

apa istimewanya “Berdiri Terinjak?”
Sebelum adanya mereka yang menamakan anti PWG, kita emang udah dari awal punya ritual mengacungkan jari tengah di lagu ini. Ini semacam ungkapan perasaan. Kita dari dulu merasa terkucilkan, tapi kita tetep aja cuek main. Dulu kita kan mainnya di acara metal screamo yang waktu itu lagi menjamur. Dulu kan jarang ada band sealiran PWG, yang ada aliran teriak-teriak semua. Dulu gw inget banget pernah main di Colours Cafe, Thamrin, pas baru awal-awalnya PWG. Disitu yang nonton ada temen-temen dari lingkungan band gw sebelumnya (band emo The Side Project). Lantas banyak yang memandang gw gak enak kayak the-“ngapain sih anak masih ngeband aja”-look. Dari sana lirik lagu “Berdiri Terinjak” keluar dari kepala gw.
“…biarkan kudisini, semua mata kan memandang rendah, ku akan terus keras bernyanyi..” sejak itu kita putuskan lagu ini semacam mewakili perasaan kita yang bakal terus akan ada yang gak suka, tapi kita tetap akan terus bernyanyi keras.

setelah menjadi terkenal, selanjutnya apa?
Lucunya kita belum pernah merasa welcome main di gigs. Karena kita tau dibelakang pasti akan ada omongan yang gak enak setiap kita manggung. Orang-orang teris bilang kita lupa sama gigs kecil kaya kacang lupa sama kulit. Padahal kita sendiri selalu merasa kecil di filosofi kacang tersebut. It’s like… kita dulu pengen banget keluar dari kepenatan karena gak dihargain di komunitas, tapi begitu kita bisa “nyebrang”, banyak komunitas yang mengklaim kita jadi penghianat karena gak mau main di gigs kecil. Padahal itu sama sekali gak bener. Kita masih PWG yang dulu, kita siap main di gigs manapun.

Bagaimana dengan yang anti-anti itu?
Menurut gw berhadapan dengan mereka itu punya pesan tersendiri, kita jadi punya sesuatu yang bisa kita tawarkan yaitu main musik yang kita suka, bukan musik yang orang lain minta kita mainin. Menghadapi yang “anti” semacam sebuah doping yang mendorong kita untuk jalan terus.. terus.. dan terus. Mereka menstimulasi PWG untuk maju, makanya kita gak pernah merasa grogi ketemu mereka, walau diteriakin sekalipun.

Jadi semacam sikap negatif dari yang anti menjadi semangat positif buat kalian?
Betul. Dan kita beruntung ketemu orang-orang yang frontal yang secara blak-blakan ngasih tau kekurangan kita. Jadi menghemat waktu untuk kita membahas dalam forum internal. Kita jadi tau apa yang mesti dibenahi. Dari awal kita juga pernah berhadapan dengan media. Mungkin karena attitude dan statement kita yang kurang berkenan (being young and reckless, and be as punk as f*ck ngelakuin apa aja yang kita mau).

Ini yang membuat kalian terlihat santai dengan cacian?
But that’s just who we were. We’re just kids growing up and learning things the hard way. Saat paling berkesan buat gw bukan saat di atas panggung, tapi justru bagaimana bertahan menuju ke panggung-panggung selanjutnya, meeting new people, belajar banyak dari mereka yang lebih dulu ngerasain manis pahitnya sebuah band punk rock yang influenting youth. Setidaknya kita bisa ngasih contoh positif kalau menuju kesenangan itu gak segampang bersenang-senang itu sendiri. You jump higher, you fall harder. And then you learn, and jump again, and this time you’re stronger.

Ini menjadi semacam sebuah beban?
Iya juga, tapi walau ini akhirnya menjadi beban, once we decided to make good examples, kita jadi terbebani tanggung jawab untuk tidak reckless lagi.

1 Komentar


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s