Matakuliah Pendidikan Keawganegaraan dengan Tema Mempertahankan Budaya Nasional

Nama : Guardina Ardi Nama
NIM : 08413244037
Prodi : Pendidikan Sosiologi

Dosen : Dina D. K, M. Hum.

MEMPERTAHANKAN UPACARA PERNIKAHAN ADAT JAWA

Dinamika sosial dan kebudayaan pasti akan dialami oleh semua daerah di dunia ini, tidak terkecuali dengan hal yang melanda masyarakat Indonesia. Demikian pula masyarakat dan kebudayaan Indonesia pernah berkembang dengan pesatnya di masa lampau, walaupun perkembangannya dewasa ini agak tertinggal apabila dibandingkan dengan perkembangan di negeri maju lainnya. Ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya perkembangan sosial budaya dalam masyarakat Indonesia. Kedua faktor tersebut yang petama yaitu dari dalam masyarakat itu sendiri seperti bertambah dan berkurangnya jumlah penduduk dalam suatu masyarakat, penemuan-penemuan baru baik berupa ide ataupun alat, dan konflik anatar anggota masyarakat, kemudian yang kedua yaitu dari luar masyarakat masyarakat itu seperti pengaruh kontak antar budaya secara langsung maupun tidak langsung, peperangan, serta perubahan lingkungan hidup yang pada gilirannya dapat memacu perkembangan sosial dan kebudayaan masyarakat yang harus menata kembali kehidupan mereka.
Orang seringkali tidak menyadari bahwa ia telah dipengaruhi orang lain hanya dengan sepatah-dua patah kata. Sebagai contohnya proses upacara pernikahan yang menggunakan adat jawa, tetapi proses upacara ini mulai ditinggalkan oleh masyarakat Jawa, yang mana Upacara pernikahan adat Jawa ini memiliki tata cara yang khas dan dilakukan menurut tradisi turun-temurun yang terdiri dari banyak sub-upacara. Setiap detail yang digunakan saat pagelaran pesta memiliki arti dan filosofi tentang hidup. Selain itu upacara pernikahan adat Jawa juga membutuhkan waktu yang agak panjang yaitu paling tidak selama tiga hari untuk melaksanakan upacara pernikahan adat Jawa. Sehingga hal tersebut menyebabkan tidak setiap orang Jawa mengerti tata upacara adat penikahan adat Jawa, apa saja prosesinya atau upacara ritualnya, dan bagaimana penyusunan panitia pelaksana untuk masing-masing prosesi tersebut.
Urutan acara dalam upacara pernikahan adat Jawa adalah sebagai berikut :
1. Tarub
2. Lamaran
3. Nontoni
4. Seserahan
5. Siraman
6. Midodareni
7. Panggih, adapun urut-urutan dalam acara ini yaitu :
a. Balangan gantal
b. Wiji dadi
c. Sindur binayang
d. Timbang
e. Tanem
f. Liru kalpika
g. Kacar kucur
h. Dahar kembul
i. Mertuwi
j. Sungkeman
k. kirab
Keterangan dari tiap urutan acara tesebut yaitu :
1. Tarub
Maksud dari hal ini adalah untuk memperluas halaman yang sifatnya untuk menghormati para tamu yang datang agar dapat duduk dengan nyaman tidak terkena panas ataupun hujan, selain itu juga diartikan bahwa tuan rumah memang sedang ada suatu acara. Pada pintu masuk diberi hiasan janur kuning (daun kelapa yang masih muda) yang dipasang tepi tratag yang terbuat dari bleketepe (anyaman daun kelapa yang hijau). Untuk perlengkapan tarub selain janur kuning masih ada lagi antara lain yang disebut dengan tuwuhan. Adapun macamnya : dua batang pohon pisang raja yang buahnya tua/matang, dua buah cengkir yaitu cengkir gading dan cengkir legi, dua untai padi yang sudah tua, dua batang pohon tebu wulung (tebu hitam) yang lurus, daun beringin secukupnya, dan daun dadap srep. Tuwuhan dan gegodongan ini dipasang di kiri pintu gerbang satu unit dan dikanan pintu gerbang satu unit (bila selesai pisang dan kelapa bisa diperebutkan pada anak-anak). Selain pemasangan tarub diatas masih delengkapi dengan makanan-makanan tradisional yang memiliki makna petuah dan nasehat yang adi luhur, harapan serta do’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
2. Lamaran
Tahap ini merupakan tahap pembicaraan antar orang tua dari kedua belah pihak yang tujuannya akan berbesanan dan menikahkan putra dan putrinya. Pihak dari calon pria mengutus orang dalam satu rombongan sebagai wakil dari kedua orang tuanya untuk datang dan membicarakan rencana pernikahannya dengan disaksikan oleh sanak saudara dari kedua belah pihak.
3. Nontoni
Nontoni adalah upacara untuk melihat calon pasangan yang akan dinikahi, biasanya tata cara ini diprakarsai pihak pria. Dimasa lalu orang yang akan nikah belum tentu kenal terhadap orang yang akan dinikahinya, bahkan terkadang belum pernah melihatnya, meskipun ada kemungkinan juga mereka sudah tahu dan mengenal atau pernah melihatnya. Setelah orang tua dari calon pria yang akan diperjodohkan telah mengirimkan penyelidikannya tentang keadaan si gadis yang akan diambil menantu. Penyelidikan itu dinamakan dom sumuruping banyu atau penyelidikan secara rahasia. Setelah hasil nontoni ini memuaskan, dan calon pria sanggup menerima pilihan orang tuanya, maka diadakan musyawarah diantara orang tua calon pria untuk menentukan tata cara lamaran.
4. Seserahan
Seserahan merupakan bentuk penyerahan dari sarana atau syarat dari hasil perundingan sebelumnya. Seserahan tersebut berfungsi sebagai peningset atau pengikat perundingan yang telah disepakati bersama. Adapun wujud dari seserahan tersebut antara lain : sanggan (berupa pisang raja yang tua serta beras, garam, kelapa, minyak sayur), kain batik untuk kedua pengantin, pesing (dua lembar kain batik untuk kakek dan nenek pihak perempuan), makanan dan buah-buahan, uang secukupnya, dan mas kawin.
5. Siraman
Makna dari pesta Siraman adalah untuk membersihkan jiwa dan raga kedua calon pengantin yang akan dinikahkan. Pesta Siraman ini biasanya diadakan di siang hari, sehari sebelum Ijab dan Panggih. Siraman di adakan di rumah orangtua pengantin masing-masing. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau di taman. Sekarang lebih banyak diadakan di taman. Daftar nama dari orang yang melakukan Siraman itu sangat penting. Tidak hanya orangtua, tetapi juga keluarga dekat dan orang yang dituakan. Mereka menyeleksi orang yang bermoral baik. Jumlah orang yang melakukan Siraman itu biasanya tujuh orang.
6. Midodareni
Midodareni berasal dari kata dasar widodari ( Jawa ) yang berarti bidadari yaitu putri dari sorga yang sangat cantik dan sangat harum baunya. Acara ini biasanya dilakukan pada malam hari, sehari menjelang pernikahan. Calon pria ditemani oleh sanak saudaranya dan sahabatnya untuk bertandang ke rumah calon mertuanya. Setelah diterima oleh calon mertuanya, kemudian calon pria diinapkan di rumah yang tidak jauh dari dari rumah calon penganten perempuan agar diantara kedua calon pengantin tersebut tidak saling bertemu. Menjelang tengah malam pada waktu malem midodareni hendaknya pihak yang berkepentingan memanjatkan do’a kepada Tuhan Yang Maha Esa serta dewi-dewi yang diyakini agar memberi berkah dan restu kepada kedua calon pengantin.
7. Panggih
Sebelum upacara panggih dilaksanakan maka pada kebiasaan adat antara kedua belah pihak diresmikan dulu oleh pemuka kepercayaan yang menandakan sahnya perkawinan kedua mempelai. Kemudian panggih atau bertemuanya pengantin pada acara yang bersifat seremonial. Pada acara ini Kedua calon pengantin membawa gantal (daun sirih sebanyak tiga lembar yang digulung dan berisi jambe diikat dengan benang lawe).
Pihak calon pria membawa kembar mayang dan sebelum memasuki tempat upacar pernikahan rombongan berhenti sejenak di pintu masuk tempat upacar pernikahan tersebut untuk menunggu calon penganten perempuan keluar dari dalam rumahnya dengan diiringi oleh orangtua beserta sanak saudaranya untuk dipertemukan dengan calon pengantin pria. Tak jauh beda dengan rombongan calon pengantin pria, pihak pengantin perempuan juga membawa kembar mayang. Setelah keduanya bertemu, kemudian keduanya duduk berhadapan dan sebagai penengah adalah meja kecil berbenttuk persegi. Sementara pada sisi yang lain di sebelah kanan dari tempat duduk calon pengatin pria adalah pemuka kepercayaan yang nantinya akan mengesahkan pernikahan tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan acara balangan gantal, kedua calon pengantin saling melempa gantar yang mereka bawa tadi. Lalu dilanjutkan dengan saling menyerahkan kembar mayang tadi. Setelah itu dilanjutkan dengan acara wiji dadi yaitu simbol dai dibukanya benih untuk ditanam dan tumbuh menjadi bibit yang diharapkan, dimana dalam upacara ini calon pengantin pria memecahkan telur ayam kampung dengan cara menginjak dengan telapak kaki kanan dan sang calon pengantin perempuan membasuh telapak kaki calon pengantin pria mengguanakan air kembang setaman yang menyimbolkan kesetiaan sang istri kepada sang suami. Dilanjutkan dengan acara sindur binayang, dalam hal ini kedua pengantin berjejer dan bergandengan kemudian mengikuti ayah pengantein perempuan menuju sasana tempat duduk pengantin. Sebelum pengantin duduk di sasananya, keduanya harus melewari acara timbang yang dimaksudkan bahwa kedua pengantin sudah ditimbang bibit, bebet, bobotnya. Dimana pengantin duduk di atas kanan dan kiri paha sang ayah dari pengantin perempuan, kemudian sang ayah menanyakan kepada sang ibu pengantin perempuan apakah sudah timbang ataukah belum, maka akan dijawab oleh sang ibu. Acara berikutnya adalam tanem yang diartikan sebagai keyakinan kedua orangtua dengan pernikahan anaknya tersebut dan kedua pengantin juga tidak ragu lagi dalam mengarungi bahtera rumah tangga, orantua dari pengantin perempuan mempersilahkan duduk kedua pengantin di sasana pernikahan. Lalu dilanjutkan dengan acara liru kalpika mengandung arti kecintaan mereka dibangun dari hati yang tulus dan asli seperti halnya emas, dalam acara ini kedua pengantin saling menukar cincin dan memakaikannya pada jari manis. Kemudian dilanjutkan dengan acara kacar-kucur, acara ini merupakan pertanda bahwa sang suami mempunyai kewajiban mendapatkan rejeki untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Setelah acara ini selesai, maka dilanjutkan dengan acara dahar kembul yaitu kedua pengantin saling menyuapi dengan segempal nasi yang memiliki arti bahwa hasil jerih payah mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Acara selanjutnya yaitu ngabekten yaitu sungkeman yang dilakukan oleh kedua pengantin kepada orangtua mereka berdua dengan harapan bahwa selama mengarungi selama mengarungi bahtera rumah tangga mereka selalu mendapatkan keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa. Dilanjutkan dengan acara kirab, acara ini adalah sebagai acara perkenalan dari kedua pengantin kepada sanak saudara kedua belah pihak yang belum dikenalnya.
Kebanyakan orang Jawa sekarang ini lebih mengutamakan hal-hal yang praktis saja, yang mana mereka mulai meninggalkan upacara pernikahan adat Jawa tersebut dan menggantikannya cukup hanya dengan ijab sah yang dilakukan oleh penghulu dari KUA saja dalam proses upacara pernikahannya. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa terjadinya suatu pergeseran ataupun kemunduran dalam nilai-nilai kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, padahal secara tidak sadar ketika mendengar seseorang maupun kelompok yang mendukung pelestarian budaya akan menganggap kelompok itu benar karena pelestarian budaya itu benar. Dapat kita ketahui bahwa kebudayaan itu sendiri menurut ilmu antropologi berarti keseluruhan dari sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri denagan belajar. Sehingga kita memiliki kewajiban untuk menjaga kelestarian kebudayaan tersebut agar tidak punah ataupun diambil oleh orang lain.
Kecemasan kita terhadap punahnya kebudayaan daerah membentuk sebuah bayangan kelam di benak mayarakat pada suatu saat kebudayaan daerah itu tinggal arwahnya saja yang bisa kita puja. Saat kita menghadapi kecemasan klasik tersebut, kini kecemasan lain datang mengganggu. Negara tetangga mengklaim sejumlah produk budaya kita. Kita masih bisa marah, meskipun kita sendiri kerap melupakan kebudayaan daerah. Tidak ada yang lebih bijak menghadapi masalah ini kecuali kita ambil saja hikmahnya. Terlepas semangat nasionalisme menyikapi “pencurian” produk budaya oleh negeri tetangga, peristiwa itu menyadarkan kita bahwa selama ini kita memang kurang pintar mempertahankan dan merawat warisan kebudayaan negeri sendiri. Di satu sisi kita telah mengagung-agungkan kebudayaan daerah sebagai aset kebudayaan nasional. Di lain kenyataan, eksistensi kehidupan kebudayaan daerah sudah layu. Nyaris mati atau tidak terpakai lagi dalam kehidupan masyarakat kita. Kenyataan pahit itu makin didukung pengaruh globalisasi dan sikap generasi muda kita yang makin rapuh saja menerima arus kebudayaan asing.
Pernikahan merupakan prosesi yang sakral, dan pernikahan itu merupakan bagian dari kebudayaan atau adat suatu kelompok masyarakat yang merupakan peninggalan nenek moyang. Banyak sekali hal- hal yang berbau mistik sebagai misal dalam prosesi upacara pernikahan adat Jawa tersebut. Tetapi bagaimanapun juga orang itu tetap manusia biasa, tidak ada pemikiran yang logis tentang perhitungan jawa, karena kita tidak tahu apa yang terjadi di hari esok. Upacara pernikahan sesuai dengan pelaksanaan merupakaan pertunjukan dari tradisi seni dan budaya, bagian dari ciri khas bangsa, di mana simbol dari kehidupan adalah kedudukan dengan martabat dan kebanggaan. Tradisi ini diwarisi sejak dari dahulu kala sampai sekarang. Upacara pernikahan adat Jawa berisi rangkaian upacara yang masih bersifat tradisional dan pada perkembangannya mengalami pengikisan budaya, untuk itu penulis mencoba mengemukakan beberapa saran untuk melestarikan adat-istiadat peninggalan leluhur kita. Penulis berpendapat agar adat-istiadat leluhur dapat kita lestarikan, maka kita harus melakukan pembinaan dari lapisan paling bawah. Hal yang paling dasar yang dapat kita lakukan untuk menjaga kelestarian kebudayaan daerah khususnya pernikahan adat Jawa yaitu dengan cara melakukan pernikahan dengan sesama orang Jawa, walaupun cara tersebut dapat menghambat proses integrasi nasional. Kemudian cara lain yang dapat ditempuh yaitu pemerintah dan masyarakat yang pro-aktif bersama-sama mengadakan serangkaian program yang bertujuan untuk melestarikan kebudayaan leluhur kita. Seminar-seminar untuk semua kalangan masyarakat yang menyangkut kebudayaan dan langkah-langkah pelestariannya khususnya upacara pernikahan adat Jawa harus terus kita galakkan dan satu hal yang paling penting yang harus kita catat kita harus bisa menanamkan kesadaran kepada setiap individu bahwa kebudayaan yang kita nikmati sekarang harus pula dinikmati oleh anak cucu kita kelak dimasa yang akan datang. Pada generasi muda kita sebagai produk modernisme semakin kurang tertarik terhadap hal-hal yang berbau tradisi karena dianggap kuno, ketinggalan zaman dan hanya milik generasi tua saja. Menghadapi keadaan itu, pemerintah dan segenap kelompok masyarakat yang peduli sebenarnya tidak tinggal diam. Karena bagaimanapun budaya tradisional patut dilindungi dan dilestarikan. Mereka dapat menanggulangi hal tersebut dengan cara sosialisasi prosesi pernikahan adat Jawa, yang mana dalam prosesi tersebut mengemas upacara pernikahan adat Jawa dalam konsep yang modern, sehingga upacara tersebut tidak terkesan sulit yang kemudian akan tekesan praktis. Di samping itu, walau tidak mudah upaya-upaya pelestarian budaya kita harus tetap gencar dilakukan dengan berbagai cara diantaranya adalah pementasan-pementasan seni budaya tradisional misalnya festifal ataupun pameran kebudayaan di berbagai pusat kebudayaan atau tempat umum yang dilakukan secara berkesinambungan. Upaya pelestarian itu akan berjalan sukses apabila didukung oleh berbagai pihak termasuk pemerintah dan adanya sosialisasi luas dari media massa termasuk televisi. Sehinnga walupun tidak secara langsung melihat prosesi upacara pernikahan adat Jawa masyarakat bisa mengetahui dan mengerti bagaimana prosesi upacara pernikahan adat Jawa itu sebenarnya melalui layar kaca tanpa harus beranjak dari rumahnya. Selain dengan cara yang sudah tersebut di atas pemerintah maupun masyarakat masih memiliki jalan untuk menjaga kelestarian kebudayaan daerah khususnya upacara pernikahan adat Jawa, yaitu dengan cara mengadakan upacara pernikahan adat Jawa secara masal. Walaupun cara tersebut dapat membuat kita tertawa, tetapi di sisi lain upacara tersebut sangat menguntungkan bagi kelestaian kebudayaan daerah. Dimana upacara masal tersebut dapat membantu masyarakat yang tergolong dalam masyarakat yang tingkat ekonominya menengah ke bawah yang merasa keberatan untuk mengadakan upacara pernikahan adat Jawa, dan apabila sistem tersebut didukung oleh semua golongan maka kebudayaan daerah akan tetap lestari.

Referensi :
http://holyku.page.tl/Pernikahan-Adat-Jawa-Yogyakarta.htm
Koentjaraningrat, 1980, Pengantar Ilmu Antropologi.
Soerjono Soekanto, 2007, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta : Raja Grafindo Persada..

Suwarna Pringgawidagda, 2003, Panduan Praktis Acara pengantin Bebagai gaya.
Tjaroko Hp Teguh Pranoto, 2009, Tata Upacara Adat Jawa.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s