Pendidikan Multikultural

Sejarah Pendidikan Multikultural
Pendidikan multikultural sejak lama telah berkembang di Eropa dan Amerika Serikat, strateginya adalah pengembangan dari studi interkultural dan multikulturalisme. Dalam perkembangannya studi ini menjadi studi khusus yang pada awalnya bertujuan agar populasi mayoritas dapat bersikap toleran terhadap imigran baru. Pada awalanya juga terdapat tujuan politis, namun seiring dengan perkembangan pendidikan multikultural lama-lama tujuan politis itu hilang dengan sendirinya.
Pendidikan multikultural sekarang sudah berkembang baik teoritis maupun praktek sejak konsep paling awal muncul tahun 1960-an yang pertama kali dikemukakan oleh Banks. Pada saat itu konsepnya lebih pada supermasi kulit putih di AS dan diskriminasi yang dialami oleh kulit hitam. Pendidikan multi kultural yang ada di AS cenderung bersifat antar etnis ataupun antar bangsa. Terdapat empat jenis dan fase perkembangan pendidikan multikultural di Amerika, antara lain :
1. Pendidikan yang bersifat segresi yang memberi hak berbeda diantara kulit putih dan kulit berwarna terutama pada kualitas pendidikan.
2. Pendidikan menurut konsep Salad Bowl, dimana masing-masing kelompok etnis berdiri sendiri, namun mereka hidup bersama tanpa mengganggu etnis lain.
3. Konsep melting pot, dalam konsep ini masing-masing etnis menyadari bahwa ada perbedaan antar sesamanya, sehingga dengan kesadaran tersebut mereka tetap bisa hidup bersama.
4. Pendidikan multikultural melahirkan paedagogik baru serta pandangan baru mengenai praksis pendidikan yang memberikan kesempatan serta penghargaan yang sama terhadap semua peserta didik tanpa membedakan atas dasar perbedaan yang ada.
Sedangkan pendidikan multikultural di Inggris berkembang sejalan dengan datangnya kaum migran yang mendapat perlakuan diskriminatif oleh pemerintah dan kaum mayoritas Inggris, sehingga menimbulkan gerakan berlatar belakang budaya. Sementara perkembangan pendidikan multikultural di Jerman tak jauh beda dengan perkembangan pendidikan multikultural di AS dan Inggris yaitu bersifat antarbudaya etnis yang besar atau antar bangsa.

Pengertian Pendidikan Multikultural

Pendidikan multikultural merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya perbedaan dan keberagaman yang memang dibawa sejak lahir tanpa mempermasalahkan perbedaan budaya, gender, bahasa, ataupun agama, kesediaan untuk menerima dan menikmati perbedaan, kemampuan hidup dalam ketidak setujuan yang belum terpecahkan. Jadi konsep multikulturalisme merujuk pada pluralitas kebudayaan dan cara untuk merespon kondisi yang plural tersebut. Dalam konteks kehidupan yang multikultural pemahaman yang berdimensi multikultural harus dihadirkan untuk memperluas wacana pemikiran manusia yang selama ini masih mempertahankan egoisme kebudayaan, agama, maupun kelompok. Sikap saling menerima dan menghargai akan cepat berkembang apabila diberikan kepada generasi muda dalam sistem pendidikan. Melalui pendidikan sikap penghargaan terhadap perbedaan direncanakan dengan baik, dimana para peserta didik dilatih dan disadarkan akan adanya perbedaan-perbedaan diantara dirinya dengan orang lain. Pada praktek pembelajaran dalam pendidikan sering kali tidak berhubungan dengan realitas kehidupan peserta didik ketika menjalani pendidikan dan setelah pendidikan. Di sinilah pendidikan mestinya memiliki metode untuk pembelajaran dengan memperhatikan pola-pola perubahan dan pertumbuhan peserta didik. Saat berlangsungnya proses pembelajaran situasi berubah menjadi semakin cepat. Oleh karena itu tidak ada cara pembelajaran yang lain selain mendorong peserta didik untuk memiliki pengalaman sendirinya akan permasalahan yang sedang dihadapinya. Guru dan lembaga pendidikan hanya menempatkan diri sebagai fasilitator saja, bukanlah seseorang yang dijadikan sebagai gudang ilmu pengetahuan. Jadi seorang guru itu sendiri harus menjadi pribadi yang memiliki pehatian terhadap masa depan generasi dengan penuh tanggung jawab dan mampu menanamkan niai-nilai dari pendidikan multikultural seperti demokrasi, humanisme, keadilan gender, kemampuan berbeda pendapat, dan pluralisme budaya. Namun untuk memenuhi dan merealisasikan perhatian dan tanggung jawabnya seorang guru memerlukan fasilitas bagi kebutuhan intelektualitasnya ataupun kebutuhan moral dan material.


Pendidikan Multikultural di Indonesia
Pendidikan multi kultural di Indonesia lebih bersifat antar etnis yang kecil dalam suatu bangsa. Hal ini sebenarnya dapat menjadi modal yang kuat bagi keberhasilan pelaksanaan pendidikan multikultural. Semangat Sumpah Pemuda dapat menjadi ruh yang kuat untuk mempersatukan warga negara Indonesia yang berbeda budaya. Sebelum era reformasi masyarakat takut untuk berbeda pendapat karena kemerdekaan mengeluarkan pendapat tidak mendapatkan tempat dan kebebasana berpikir juga terbatas. Di dalam konteks perkembangan sistem politik Indonesia saat ini pilihan perpektif pendidikan yang demikian memiliki peluang yang besar dan diperlukan sebagai landasan politik yang kuat. Pendidikan multikultural sangat menekankan pentingnya akomodasi kebudayaan dan masyarakat sub-nasional untuk memelihara den mempertahankan identitas kebudayaan dan masyarakat nasional. Nasikun menyampaikan bahwa ada tiga perspektif multikulturalisme di dalam sistem pendidikan, antara lain :
a. Perspektif cultural assimilation, merupakan suatu model transisi di dalam sistem pendidikan yang menunjukkan proses asimilasi peserta didik dari berbagai kebudayaan ke dalam sutau masyarakat.
b. Perspektif cultural pluralism, merupakan suatu sistem pendidikan yang lebih mementingkan akan pentingnya hak bagi seluruh masyarakat beserta kebudayaannya untuk memelihara dan mempertahankan identitas kebudayaan masing-masing.
c. Perspektif cultural synthesis, merupakan gabungan dari kedua perspektif diatas.
Pilihan perspektif pendidikan sintesis multikultural memiliki rasional yang paling dasar di dalam hakekat tujuan suatu pendidikan multikultural, yang dapat didefinisikan melalui tiga tujuan, yaitu:
 Tujuan attitudinal : menyamai dan mengembangkan sensitivitas kultural, toleransi kultural, penghormatan pada identitas kultural, pengembangan sikap budaya responsif dan keahlian untuk melakukan penolakan dan resolusi konflik.
 Tujuan kognitif : pencapaian kemampuan akademik, pengembangan pengetahuan tentang kemajemukan kebudayaan, kompetensi untuk melakukan analisis dan interpretasi perilaku kultural, dan kemampuan membangun kesadaran kritis tentang kebudayaannya sendiri.
 Tujuan instruksional : mengembangkan kemampuan untuk melakukan koeksi atas efek-efek, stereotipe-stereotipe, peniadaan-peniadaan, dan mis-informasi tentang kelompok etnis dan kultural yang dimuat dalam buku ataupun media pembelajaran, menyediakan strategi-strategi untuk melakukan hidup di dalam kehidupan multikultural, mengembangkan ketrampilan-ketrampilan komunikasi interpersonal.


Implementasi Pendidikan Multikultural
Banks mengemukakan empat pendekatan yang mengintegrasikan materi pendidikan multikultural ke dalam kurikulum maupun pembelajaran di sekolah yang relevan untuk diterapkan di Indonesia, antara lain :
1. Pendekatan kontribusi
Pendekatan ini yang paling sering dilakukan dan paling luas apabila dipakai dalam tahap pertama dari kebangkitan etnis. Pendekatan ini lebih tepat apabila diterapkan di siswa TK SD kelas satu, dua, tiga karena tujuan dari pendekatan ini adalah untuk menanamkan pada siswanya bahwa kehidupan manusia ini antara suatu tempat dengan tempat lainnya sangat beragam. Misalnya: mengenalkan kebudayaan yang dimiliki oleh tiap-tiap daerah hingga negara lain.
2. Pendekatan aditif
Pada tahap ini dilakukan penambahan materi, konsep, tema, perpektif terhadap kurikulum tanpa mengubah struktur, tujuan, dan karakteristik dasarnya. Pendekatan ini lebih tepat apabila diterapkan di siswa SD kelas empat, lima, dan enam, serta SMP karena mereka sudah mulai memahami makna. Misalnya: memutarkan CD tentang kehidupan berbudaya dari daaerah-daerah sampai negara yang berbeda.
3. Pendekatan transformasi
Pendekatan ini mengubah asumsi dasar kurikkulum dan menumbuhkan kompetensi dasar siswa dengan memperhatikan konsep, isu, tema, dan permasalahan dari beberapa perspektif dan sudut pandang etnis. Pendekatan ini lebih tepat apabila diterapkan di sekolah lanjutan karena siswa pada jenjang ini sudah memiliki sudut pandang tentang sesuatu yang ada. Misalnya: siswa dibiasakan untuk berpendapat sesuai dengan jalan pikiran mereka masing-masing.
4. Pendekatan aksi sosial
Pendekatan ini mencakup semua elemen dari pendekatan transformasi, namun menambah komponen yang mempersyaratkan siswa membuat aksi yang berkaitan dengan konsep, isu, atau permasalahan yang dipelajari. Pendekatan ini lebih tepat apabila diterapkan di perguruan tinggi baik untuk kajian dalam kelas atau organisasi kemahasiswaan. Misalnya: mengkaji kebijakan yang dianggap kurang efektif, kurang adil, dan diskriminatif.

Sumber : Seminar Regional Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakrta dengan tema Pendidikan Multikultural sebagai Sarana Membentuk Karakter Bangsa

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s