Sedikit Cerita tentang Nasib Seorang Guru

Guru adalah figur seorang pemimpin, guru juga sebagai seorang yang bisa membentuk jiwa dan watak anak didik, sehingga keberadaannya selalu dibanggakan dan dipuji oleh masyarakat. Tugas guru dalam bidang kemanusian di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua bagi para muridnya. Maka tidak mengherankan apabila sosok guru merupakan pribadi-pribadi yang cepat kaki ringan tangan. Ia harus mampu menarik simpati dari muridnya sehingga ia menjadi idola para siswanya. Guru mempunyai kekuasaan untuk membentuk dan membangun kepribadian anak didik menjadi seorang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Guru harus senantiasa berupaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang sulit diukur, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Pak Handoko adalah seorang guru yang berasal dari daerah pedesaan yang masih tradisional dan di awal kariernya sebagai guru sekolah menengah atas yang terletak masih di daerah dekat dengan rumahnya. Ia termasuk guru yang masih muda, karena sekarang ini dia masih berusia 28 tahun. Dalam kehidupan sehari-harinya dia terkenal sebagai orang yang ramah, santun, dan sopan. Bidang kehidupan keagamaan tidak lepas dari sikapnya dalam kehidupan sehari-hari, bisa dikatakan dia itu adalah orang yang taat pada aturan agama dan selalu menyisikan uangnya untuk diberikan kepada tetangga-tetangganya yang kurang mampu. Pak Handoko ini sudah berkeluarga, dia menikah dikala berumur 26 tahun dan sampai sekarang ini sudah dikaruniai seorang anak perempuan. Istrinya bernama Nani yang usianya terpaut satu tahun dengannya dan anak perempuannya bernama Hani yang masih berumur dua tahun.
Menjadi seorang pengajar memang sudah keinginannya sejak dia lulus sekolah menengah atas, karena dia memiliki pemikiran apabila ia menjadi guru maka selain memberikan ilmu pengetahuan kepada orang lain ia juga akan mendapatkan pahala yang ia yakini bisa membantu di kehidupannya setelah ia meninggal kelak. Atas dasar pemikirannya tersebut membuat ia bersedia untuk mengajar di daerah manapun, hingga sekarang ini ia di dipindahkan dari tempat ia mengajar terdahulu ke suatu sekolah menengah atas di daerah perkotaan. Karena letak sekolah tempat ia mengajar tersebut jauh dari rumahnya, kemudian ia memutuskan untuk pindah ke daerah yang dekat dengan sekolah tempat ia mengajar tersebut. Kepindahannya tersebut tidak hanya dilakukan oleh ia sendiri, melainkan beserta dengan istri dan anak perempuannya. Daerah baru yang mereka tempati tersebut merupakan daerah yang padat penduduk, yang mana terdiri dari masyarakat yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda dan mata pencaharian yang berbeda-beda juga. Hal yang begitu mendapat perhatian di daerah tersebut adalah keberadaan lokalisasi yang terletak tidak jauh dari rumah pak Handoko. Tetapi apa boleh buat, karena lahan di kawasan pekotaan itu sendiri sudah dipenuhi pemukiman penduduk, sehingga keluarga Pak Handoko memutuskan untuk tetap menempati di daerah tersebut walaupun mereka akan terganggu atas keberadaan lokalisasi tersebut.
Aktifitas sebagai guru pun mulai ia jalani, kesehariaanya ia berangkat dari rumah sekitar pukul 06:30 dan pulang ke rumahnya yang baru tersebut sekitar pukul 14:00 dari sekolahnya. Ketika sampai pada hari minggu ia gunakan untuk beristirahat di rumah atau melakukan rekreasi ke suatu daerah untuk menenangkan pikiran bersama keluarganya seperti apa yang dilakukan oleh keluarga yang memiliki pekerjaan sama seperti pekerjaan Pak Handoko. Pada awal kariernya mengajar di sekolah yang baru tersebut perasaan tidak nyaman menyelimuti dirinya karena ia belum mengenal siapapun orang-orang baru yang bekerja di sekolah tersebut. Lama kelamaan rasa tersebut hilang karena pada dasarnya ia memang orang yang mudah bergaul dengan bermodalkan sikap ramahnya tersebut.
Sebagai seorang yang berasal dari daerah pedesaan, ia ingin tau secara detail tentang apa yang ada yang terjadi dan yang ada di daerah perkotaan, bahkan ia tertarik untuk mencoba hal yang belum ia pernah coba di desa. Hingga pada suatu saat Pak Handoko memennuhi rasa keingintahuannya tentang apa yang ada di dalam kawasan lokalisasi yang berada di dekat rumahnya tersebut tanpa sepengetahuan istrinya. Pelan-pelan ia berjalan memasuki kawasan tersebut disertai dengan perasaan takut dan rasa ingin mengurungkan niatnya. Tetapi ia masih saja ia tetap memenuhi keingin tahuannya tentang apa yang ada di dalam kawasan tersebut sejak ia menempati rumah barunya. Begitu masuk di dalam kawasan tersebut ia disambut oleh wanit-wanita yang menjajakan tubuhnya di depan bilik masing-masing. Karena Pak Handoko tidak tahu apa-apa menurut saja ia ketika di tawari untuk mampir ke sebuah bilik oleh wanita yang menempati bilik tersebut. Setelah masuk di dalam bilik tersebut ia hanya melihat ruangan yang terisi dengan tempat tidur dan meja kecil. Kemudian ia di tawari untuk minum segelas air yang dituangkan dari dalam botol oleh wanita tersebut. Langsung saja ia meminum segelas air yang dituangkan dari dalam botol tadi, tanpa di sadari bahwa ia telah meminum minuman yang mengandung alkohol. Akhirnya Pak Handoko mabuk setelah beberapa lama meminum segelas air tersebut. Obrolan demi obrolan ia lakukan dengan wanita itu, hingga akhirnya wanita itu menggoda Pak Handoko agar mau berhubungan suami istri dengannya. Karena sudah dalam keadaan mabuk Pak Handoko tidak tahan dengan godaan wanita tuna susila tersebut dan akhirnya mereka berdua melakukan hubungan suami istri.
Setelah Pak Handoko mengetahui apa yang ada dan terjadi di dalam kawasan lokalisasi tersebut malah membuat ia tertarik untuk mengulangi lagi. Berkali-kali ia melakukan hal tersebut tanpa sepengetahuan istrinya bahkan hingga mengganggu pekerjaannya karena ia sering tidak berangkat ke sekolah untuk menghabiskan waktu bersama wanita-wanita tuna susila di lokalisasi tersebut.
Pada suatu hari di sekolah tempat Pak Handoko bekerja ada laporan dari wali murid sekolah tersebut bahwa anak perempuannya telah diperkosa oleh seorang guru di sekolah tersebut. Wali murid tersebut tidak menerima perbuatan yang dilakukan kepada anaknya tersebut karena setelah kejadian itu anaknya mengalami gangguan mental dan merasa malu untuk pergi ke sekolah. Atas dasar laporan dari wali murid tersebut pihak sekolah meminta kepada pihak yang berwajib untuk menindak secara tegas tersangkanya. Kemudian kasus tersebut diusut sampai menemukan tersangka yang memperkosa gadis tersebut, akhirnya dapat diketahui bahwa tersangka yang memperkosa gadis tersebut adalah Pak Handoko seorang guru yang terkenal dengan sikap ramah dan kesantunannya tersebut. Karena perbuatannya Pak Handoko harus mendekam di penjara dan yang lebih parah lagi adalah jabatannya sebagai pegawai negeri juga ikut di lepas.

About these ads

5 Komentar

  1. Ah kalau buat cerita ttg guru jangan yg setragis itu dong! Saya yg profesinya guru kan jadi ikut miris, ayo tulis lagi cerita ttg guru yang endingnya bagus, jadi tbh motivasi dlm tugas,,,dari jendelakatatiti.wordpress.com

    • wah,, saya juga sebagai calon guru hanya melihat dampak negatif apabila dijadikan sebagai suatu pelajaranm tetapi kalau yang saya ceritakan hal yang baik pasti seseorang akan lupa dirinya itu siapa dan akhirnya sifat sombong, angkuh dan egois ia miliki

  2. hhmmm….
    gambarnya keren tuh…
    saya juga punya kayaknya :)

  3. Terlalu dipaksakan ini mah semua profesi juga bisa…
    Lihat dari segi yg lebih berkualitas lah klau cerita, kya gini ini mah cerminan si penulis sendiri kyanya….


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.